Featured, On Site

Gajah Sumatera, Nasibmu Kini

Keinginan saya untuk kembali lagi ke lokasi penelitianku untuk tugas akhir saat itu akhirnya bisa terwujudkan. Pusat Konservasi Gajah Seblat, yang terletak di sebelah Utara Provinsi Bengkulu ini saya kunjungi pertama kali pada tahun 2004. Gilakan? setelah dua puluh tahun lebih saya lahir di Bengkulu, baru tahun 2004 saya datang kesana. [Selengkapnya]

On Site

Pusat Konservasi Gajah Seblat

Pada tahun 1995 melalui SK Menhut No. 658/Kpts-II/1995 kawasan yang luasnya hanya 6.865 ha ini ditetapkan sebagai Hutan Poduksi dengan fungsi khusus. Khusus karena didalamnya ada habitat gajah dan kawasan ini ingin dijadikan tempat pelatihan gajah. Keputusan ini dikeluarkan karena pada tahun 1988 konflik antara manusia dan dan gajah mulai terjadi di Provinsi Bengkulu. [Selengkapnya]

Featured, On Site

Seandainya tidak ada gajah di dunia ini knapa?

Pertanyaan tersebut keluar disaat kita berdiskusi panjang dan berdebat bagaimana caranya menyelamatkan habitat gajah di Bengkulu. Karena sudah mentok dan kompleks permasalahan yang ada di PKG Seblat, dengan putus asa karena tidak menemukan jalan keluarnya seorang teman mengeluarkan pertanyaan itu. "Apa yang terjadi jika tidak ada gajah di dunia? tidak ada ada bencana bukan?". Semua orang langsung diam dan tidak bisa menemukan jawabannya. Karena semua bingung, akhir aku menyeletuk "ya.. setiap yang namanya makhluk Tuhan itu punya hak untuk hidup dan punya tempat tinggal". Apakah ada jawaban lain selain jawabanku?? [Selengkapnya]

Featured, On Site

Siapa yang Salah??

Cerita berikut ini adalah sebuah cerita seorang petani sawit yang saya temui beberapa bulan yang lalu (Desember 2008) yang tinggal di perbatasan Pusat Latihan Gajah (PLG), Seblat, Bengkulu Utara. Saya menginap di pondok beliau selama lima hari. Disebuah podok yang sangat sederhana yang terbuat dari papan-papan bekas dan bambu. Berdirinya pondok inipun sudah tidak lurus lagi alias hampir roboh karena dimakan usia. [Selengkapnya]

Tampilkan postingan dengan label On Site. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label On Site. Tampilkan semua postingan

Nyawa Gajah Digantung

Siapa yang menyangka kelangsungan hidup 18 gajah latih di Pusat Latihan Gajah Seblat, Kecamatan Putri Hijau, Kabupaten Bengkulu Utara, Bengkulu, tergantung di luar negeri. Selama ini hewan berbelalai panjang itu bisa menyambung hidup karena bantuan dari International Elephant Fund, terutama untuk kebutuhan pangan dan kesehatan.

Celakanya, sejak tiga bulan lalu bantuan dari International Elephant Fund (IEF) tak kunjung cair. Akhirnya keluarga gajah latih itu hidup dari kucuran dana Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN), yang menurut Kepala Balai Konservasi Sumber Daya Alam (KSDA) Bengkulu Anom Zamora, sangatlah minim jumlahnya. Padahal, kebutuhan para gajah itu tidak kurang dari Rp 20 juta dalam sebulan. Lantaran kondisi yang minim itulah gajah yang tadinya berjumlah 23 ekor kini hanya tersisa 18 ekor. Itu berarti sudah lima gajah yang mati gara-gara sakit dan sudah pasti kekurangan makanan.

”Saya tengah berupaya mencarikan dana dari pihak ketiga atau swasta,” tutur Anom Zamora kepada Antara, Kamis (17/3). Pada musim hujan seperti saat ini, kawanan gajah sangat rentan terhadap serangan penyakit, padahal pangan yang tersedia sangatlah seadanya.

Padahal, gajah-gajah latih ini memiliki berbagai keterampilan yang bisa dimanfaatkan oleh pihak-pihak yang berkepentingan. Mereka, misalnya, bisa bermain bola serta mengusir kawanan gajah liar yang memasuki permukiman atau kebun kelapa sawit. Zamora mengatakan, sebelumnya memang ada pihak swasta yang memanfaatkan jasa gajah latih untuk mengusir kawanan gajah liar agar tidak merusak kebun sawit. Namun, kini gajah-gajah itu hanya tinggal di penampungan dengan fasilitas pangan dan kesehatan yang memprihatinkan.

Pihak KSDA sangat khawatir, jika dana dari luar negeri itu tidak segera cair, kawanan gajah yang sudah dilatih bertahun-tahun bakalan makin banyak yang rontok. Ujung-ujungnya bisa mati satu per satu. Jadi, nyawa 18 gajah yang tersisa itu kini benar-benar tergantung dari ”kemurahan” hati donatur dari luar negeri. Padahal, gajah itu ada di pelupuk mata kita.... (CAN)

Populasi gajah liar di Bengkulu Utara kini terancam dengan adanya konversi hutan jadi pertambangan batubara

Mungkin ini adalah kabar terburuk di awal tahun ini mengenai upaya konservasi satwa liar di Bengkulu Utara terutama di kawasan Hutan Produksi dengan Fungsi Khusus Pusat Latihan Gajah Seblat (HPKh PLG Seblat) dan HPT Lebong Kandis yang keduanya berada di wilayah Kabupaten Bengkulu Utara dan Muko-Muko.

Sebelumnya saya mendapatkan informasi bahwa Bupati Bengkulu Utara dan Gubernur Bengkulu telah mengajukan Ijin Usaha Pemanfaatan Hasil Hutan / HPH di HPT Lebong Kandis atas PT Anugrah Pratama Inspirasi (API) milik Bakrie Group. Informasi terakhir yang saya dapatkan izin perusahaan ini sudah dikeluarkan oleh Menhut.

Di wilayah yg sama juga telah dikeluarkan ijin peruntukan areal transmigrasi dan sudah disertifikasi oleh BPN Bengkulu, semula ini adalah areal perambah yang sekarang mencapai sekitar 500 KK. Kedua ijin tersebut tumpang tindih karena arealnya sama dengan areal untuk HPH PT API yaitu HPT Lebong Kandis.

Beberapa tahun yang lalu sebelum kedua izin ini keluar, di kawasan yang sama BKSDA Bengkulu juga sudah mengajukan perluasan kawasan untuk Pusat Konsevasi Gajah (PKG) Seblat dan peningkatan status kawasan menjadi Suaka Marga Satwa. Tapi malang bagi satwa liar yang ada di Bengkulu, ternyata pemerintah daerah malah mengeluarkan izin untuk peruntukan yang lain. Sampai sekarang saya tidak tahu kenapa usaha penyelamatan satwa yang ada di Bengkulu ini menemui jalan buntu. Apakah karena BKSDA Bengkulu kurang gesit dan gencar meloby atau mungkin memang para pejabat di Bengkulu yang tidak peduli akan sebuah upaya konservasi.

Bupati Bengkulu Utara juga telah mengajukan permohonan untuk penambangan batubara di dekat kawasan PKG Seblat dengan batas sungai seblat. Dan pada perkembangannya Pemda Bengkulu Utara (Kadishut BU) mengajukan permohonan perluasan areal pertambangan batubara dengan mengambil 1500 Ha dari kawasan hutan PKG Seblat. Areal yang rencana mau diambil untuk pertambangan yaitu dari Camp PLG Seblat sampai ke sungai sabai. Permohonan ini didukung oleh 18 kepala desa. Tetapi didapatkan informasi bahwa tidak semua masyarakatnya menyetujui konversi hutan ini. Proses perijinan pertambangan ini baru diajukan ke BKSDA Bengkulu. Tetapi yang mengkhawatirkan bahwa BKSDA Bengkulu juga menyetujui hal ini dengan alasan bahwa areal tersebut statusnya HPT meskipun sebenarnya management authoritynya pemerintah pusat / BKSDA Bengkulu. Sebagai informasi PLG dibentuk berdasarkan SK Menhut pada tanggal 8 Desember 1995 yaitu SK Menhut No. 658/Kpts-II/1995 sebagai kawasan konservasi dengan fungsi khusus Pusat Latihan Gajah seluas 6.865 ha. Penyebutan PLG sekarang sudah diganti menjadi Pusat Konsevasi Gajah (PKG).

Yang menjadi permasalahannya sekarang adalah hutan yg diajukan untuk perluasan batubara adalah tepat di jantung PKG Seblat, dimana hutan tersebut tidak kosong tetapi dihuni oleh lebih dari 40 ekor gajah liar, harimau sumatra, tapir, beruang madu, rusa sambar, berbagai jenis primata, burung dan reptil serta flora langka seperti Rafflesia arnoldi.

Bila hutan dibuka, bagaimanakah nasib satwa-satwa liar yang dilindungi tersebut.

Pada Tgl 27 Desember 2009 tim dilapangan berhasil mengamati dan mendokumentasikan kelompok gajah liar dari berbagai umur (bayi sampai dewasa) di kawasan yg rencananya akan dibuka menjadi tambang batubara di hutan PKG Seblat.

Selain hutan akan dihabisi, tambang tersebut juga rencananya melalui 3 sungai besar yg berada dalam kawasan, yakni Air Seblat, Air Senaba dan Air Sabai. Bila hutan dibuka dan sungai tercemar karena buat pencucian batubara, bagaimana dengan masyarakat desa sekitar yang selama ini menggunakan air sungai tersebut dan satwa liar bisa bertahan hidup?

Meskipun telah dijelaskan mengenai akibat dari kebijakan itu, terutama human - elephant konflik akan meningkat dan yang dirugikan adalah masyarakat bawah yang tinggal disekitar kawasan. Tetapi solusi yg akan mereka lakukan sungguh diluar dugaan. BKSDA Bengkulu berencana akan melakukan penangkapan gajah liar sebagai upaya meredam human-elephant conflict, padahal kita tahu penangkapan gajah liar sudah dilarang dengan adanya Peraturan Menteri Kehutanan No 48 Tahun 2008 Tentang Pedomanan Penanggulangan Konflik Antara Manusia dan Satwa Liar karena mempunyai konstribusi sangat besar terhadap kepunahan gajah sumatra.

Ada informasi bahwa akan diajukan dana untuk menangkap gajah liar di dalam hutan sebanyak 25 ekor untuk tahap awal, yang akan ditranslokasi entah kemana, kehutan yg lain atau pihak ketiga belum diketahui. Informasinya lebih detail masih sedang dikaji. Kepala BKSDA Bengkulu sendiri juga berencana memesan obat bius untuk melakukan penangkapan ini. Selama ini masih bisa dicegah jangan sampai terjadi penangkapan gajah liar karena pengalaman selama ini menunjukkan bahwa penangkapan gajah liar tidak terbukti efektif dalam upaya penyelamatan gajah. Kecil sekali kemungkinan gajah yang ditangkap dan ditangkarkan di daerah-daerah di Indonesia ini bisa selamat. Tetapi sungguh terasa sangat sulit untuk kondisi dan situasi di Bengkulu sekarang ini.

Apa yang harus kita lakukan?, mohon dukungan dan masukannya apa yang harus kita perbuat bersama-sama untuk mencegah upaya pengahancuran ini. Saya yang selama ini mengamati perkembangan penyelamatan gajah liar dan satwa liar lainnya di Bengkulu sudah sangat geram mendengar berita ini semua. Sedih sekali akan melihat hutan dan satwa liar di Bengkulu yang masih tersisa akan punah. Banyak potensi flora fauna-nya juga akan hilang akibat kebijakan yang merugikan ini.

Salam hangat,
Een Irawan Putra
Lahir dan besar di Arga Makmur, Bengkulu Utara

Gajah Sumatra Terancam Punah

Rabu, 24 Juni 2009 18:38 WIB

>BENGKULU--MI: Habitat gajah Sumatra (Elephas maximus sumatrensis) di Bengkulu terancam punah akibat perambahan liar yang dilakukan lebih kurang 500 KK di koridor lintasan gajah Taman Nasional Kerinci Seblat (TNKS) dan Pusat Latihan Gajah (PLG) Seblat.

"Jika perambahan dan penebangan liar tersebut tidak segera dihentikan di kawasan itu habitat satwa liar dilindungi itu akan punah," Kepala Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Bengkulu, Andi Basrul melalui Koordinator PLG Seblat, Aswin Bangun, Rabu.

Saat ini kawasan Hutan Produksi (HP) Lebong Tandai II dan Hutan Produksi Terbatas (HPT) Lebong Kandis I sudah amat kritis akibat ulah para perambah itu.

Menurut Aswin, hampir 85 persen dari jumlah gajah Sumatra di Bengkulu berada di luar TNKS dan PLG, meski sulit memprediksi jumlah gajah liar tersebut, karena berkelompok atau dalam satu kelompok mencapai 30 hingga 50 ekor.

Perambahan liar itu muncul ketika pemerintah daerah mengeluarkan 200 sertifikat hak guna usaha (HGU) pada 2000 lalu di HP Lebong Kandis II.

Selain melakukan perambahan besar-besaran, hutan yang sudah gundul ditanami dengan kelapa sawit dan tanaman palawija.

Perambahan liar itu hingga kini terus berlanjut, karena pemerintah kabupaten dan provinsi belum melakukan penertiban.

Pada Agustus 2007 lalu pernah petugas Pemprov Bengkulu datang ke lokasi tersebut, namun hanya sekedar melihat tanpa melakukan tindakan penertiban.

Maraknya perambahan liar tersebut juga terbukti masih ditemukannya sekitar 4-5 rakit bermuatan kayu gelondongan selalu keluar setiap hari melalui Sungai Seblat.

"Satu rakit bermuatan kayu mencapai empat meter kubik. Coba bayangkan jika lima rakit berarti 20 meter kubik kayu setiap hari keluar dari hutan lindung tersebut," ujarnya.

Oleh karena itu, dia meminta kepada aparat menertibkan perambahan dan pembalakan liar tersebut, sehingga hutan tidak punah dan habitat gajah dapat diselamatkan.

"Percuma saja BKSDA selalu melakukan penyelamatan gajah Sumatra, jika habitatnya sudah tidak ada lagi," katanya.

Dia mengatakan, jalan poros menuju perusahaan perkebunan kelapa sawit PT Alno di kawasan itu cukup berpengaruh terhadap habitat gajah liar, karena sudah terbuka yang membuat para perambah mengarahkan perambahan dan penebangan liar ke kawasan hutan lindung.

Karena itu jalan menuju perusahaan dan satu desa yakni Desa Sakura yang dibangun para perambah secara liar di hutan koridor harus ditutup. (Ant/OL-06)

Gajah Bengkulu Terancam Punah

Jum'at, 20 Maret 2009 23:16

Kapanlagi.com - Populasi gajah liar di Provinsi Bengkulu terancam punah, akibat maraknya pembalakan liar dan perambahan liar yang mulai masuk ke kawasan Pusat Latihan Gajah (PLG) Seblat, Kabupaten Bengkulu Utara.

Kepala Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Bengkulu, Drs Andi Basrul melalui Koordinator Pusat Latihan Gajah (PLG) Seblat, Aswin Bangun, di Bengkulu, Jumat (20/3) mengatakan, jika kegiatan tersebut tidak segera dihentikan maka habitat gajah di PLG Seblat terancam punah, karena terputusnya hutan koridor yang menghubungkan PLG dengan Taman Nasional Kerinci Seblat (TNKS).

"Kita sangat sulit mengatasi kegiatan perambahan liar tersebut karena kurangnya bantuan dari aparat setempat," katanya.

Tugas penertiban terhadap perambah saat ini relatif hanya dilakukan oleh petugas BKSDA, padahal jumlahnya terbatas, karena itu hasilnya tidak maksimal. Aswin mengatakan, dari 6.865 hektare luas kawasan PLG Seblat lebih kurang 1.500 hektare sudah rusak berat, akibat pembalakan dan perambahan liar tersebut.

Oleh karena itu, untuk menyelamatkan PLG Seblat sangat dibutuhkan dukungan semua pihak untuk ikut serta melakukan pengamanan, termasuk aparat terkait dari Pemda di lokasi PLG berada.

Ketika ditanya, ia mengaku sudah berulang kali meminta bantuan pihak terkait seperti Dinas Kehutanan, Polres dan Polsek setempat tapi bantuan tersebut sifatnya hanya sementara waktu.

"Mengetahui ada penertiban gabungan, perambah tidak melakukan kegiatan, tapi setelah petugas tidak razia lagi mereka kembali melaksanakan aktivitasnya," ujar Aswin.

Jika pembalakan dan perambahan di PLG tidak segera dihentikan, maka habitat gajah liar di Provinsi Bengkulu terancam punah, karena tidak ada lagi areal tempat tinggal gajah. Hampir 85% dari jumlah gajah liar yang ada di Bengkulu berada di luar kawasan TNKS dan PLG. (kpl/bar)

Sudah 7 Gajah Mati Dibunuh

Ungkapan Pelaku Penembakan Gajah

BENGKULU – Berdasarkan data LSM Profauna, sedikitnya ada 7 Gajah mati dibunuh. Yang terbaru matinya 2 Gajah betina jinak, Paula dan Gia di Pusat Konservasi Gajah (PKG), sebelat Bengkulu (23/3) lalu. Ditemukan proyektil peluru yang menghancurkan otaknya dan menyebabkan pendarahan hebat.

Profauna mendesak pemerintah segera mengungkap matinya 2 gajah sebelum ada gajah lain yang menjadi korban serupa. “sangat disayangkan sampai sekarang mesti sudah terindentifikasi, kasus matinya gajah-gajah tersebut belum juga ada proses hukum. Padahal jelas melanggar undang-undang. Ini menunjukan ketidakseriusan pihak-pihak terkait untuk melakukan proses hukum,” ujar refresetive profauna Bengkulu, Radius Nursidi.

Menurutnya, perburuan satwa di PKG Sebelat ini sudah terjadi berulang kali. Pada 17 Juli 2007 lalu seekor gajah jantan bernama Pratama ditemukan mati menggenaskan. Kepalanya hancur dan gadingnya hilang. Maraknya perburuan satwa di PKG Sebelat Bengkulu salah satu penyebabnya dipicu dibukanya jalan poros sepanjang 7 km di kawasan Desa Air Sabai. Jalan tersebut merupakan eks jalan logging yang dimanfaatkan PT. Alno Agro Utara Group untuk mengangkut hasil sawit. Akses jalan yang terbuka lebar ini justru mempermudah pemburu berburu satwa secara legal.

Selain gajah, satwa yang juga sering diincar pemburu adalah Harimau Sumatra (Panthera Tigris Sumatrae). Berdasarkan survey profauna pada maret 2009, ditemukan 12 perangkap Harimau di PKG Sebelat. Macan dahan (Neofelis diardi) juga menjadi korban perangkap harimau ini. Pernah terjadi pada kasus terjeratnya macan dahan pada 19 April 2007 lalu.

“perburuan gajah dan harimau di Provinsi Bengkulu menjadi ancaman serius bagi pelestarian satwa yang sudah dilindungi Undang-undang. Polisi harus usut tuntas kasus kejahatan satwa. Tanpa ada penegakkan hukum jelas dan tegas, maka perburuan gajah, harimau serta satwa lain yang dilindungi Undang-undang akan terus berlangsung,” tegas Radius.

Dikatakan, profauna menyerukan pemerintah, polisi dan militer saling bahu membahu menangani kasus perburuan dan perdagangan satwa liar di Bengkulu. Profauna juga menduga ada keterlibatan oknum aparat polisi dan militer dalam kasus-kasus perburuan satwa. Pelaku perburuan satwa liar ini bisa dijerat UU No 5 tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya.

Perundangan yang ada tersebut telah jelas menyebutkan bahwa perburuan dan perdagangan satwa dilindungi adalah tindakan kriminal. Artinya pelaku bisa diancam hukuman pidana penjara maksimum 5 tahun dan denda Rp 100 juta. “seharusnya Undang-undang ini bisa menjerat pelaku perburuan dan perdagangan satwa illegal tersebut,” demikian Radius ketika ditemukan koran ini kemaren. Ken


Sumber : Koran Harian Rakyat Bengkulu Tanggal 3 April 2009 Hal 35

Dua Gajah Patroli Hutan Tewas Ditembak

Dua gajah itu jadi sasaran kekesalan pembalak liar yang beroperasi di taman nasional.

Selasa, 31 Maret 2009, 17:23 WIB
Elin Yunita Kristanti

VIVAnews - Dua Gajah Sumatera tewas terbunuh di Taman nasional Kerinci, Sumatera. Jasad kedua gajah betina berusia 20 tahun itu ditemukan sekian ratus meter dari pos patroli taman nasional, pagi ini. Sebutir peluru bersarang di kepala masing-masing gajah.
Apa motif penembakan tersebut masih diselidiki. Namun, "para penembak diduga profesional," kata Kepala Konservasi, Andi Basrul, seperti dikutip dari AP, Selasa 31 Maret 2009.

Andi Basrul menduga, dua gajah itu jadi sasaran kekesalan para pembalak liar yang beroperasi di taman nasional. Para pembalak liar itu lantas memerintahkan penembak profesional membunuh keduanya.

Gajah-gajah tersebut bisa jadi dianggap sebagai penghalang aksi para pembalak liar yang ingin menebangi semua kayu dan mengubah lahan taman nasional menjadi perkebunan kelapa sawit. Sebab, dua gajah itu adalah kendaraan para polisi hutan ketika melakukan patroli memburu para pembalak liar maupun pemburu satwa.

"Dua gajah itu terbunuh awal minggu lalu setelah berpatroli, saat itu polisi hutan sedang tidur," kata Basrul.

Kematian dua gajah itu sangat disayangkan, tak hanya oleh polisi hutan yang merasa terbantu. Kematian keduanya juga kehilangan berarti bagi ekosistem Gajah Sumatera yang saat ini tinggal 3.000 ekor.

Habibat gajah makin menipis karena aksi pembalakan liar dan pembabatan hutan. Akibatnya konflik antara gajah dan manusia kerap terjadi. Saat ini ada 20 gajah yang tinggal di Pusat Pelatihan Gajah Seblat di dalam kompleks taman nasional. Empat diantaranya digunakan untuk patroli, termasuk dua gajah betina yang tewas ditembak.

• VIVAnews

Dua Gajah PLG Seblat Tewas Ditembak

BENGKULU--MI: Dua gajah betina binaan Balai Konservasi Sumber Daya Alam (KSDA) Bengkulu di Pusat Latihan Gajah (PLG) Seblat Kabupaten Bengkulu Utara, mati tertembak awal pekan lalu, dan hingga kini belum diketahui motif dan pelakunya.

Kepala BKSDA Bengkulu Andi Basrul saat jumpa pers di kantornya, Senin (30/3) mengatakan kematian dua ekor gajah ini merupakan kehilangan besar bagi KSDA, khususnya Pusat Latihan Gajah (PLG) Seblat. "Kedua ekor gajah ini positif mati akibat tertembak peluru dan saat ini kita bekerja sama dengan kepolisian melakukan penyelidikan," katanya.

Andi yang baru dua pekan bertugas di BKSDA Bengkulu mengatakan dari belakang telinga sebelah kanan seekor gajah yang diberi nama Gia tersebut ditemukan proyektil berwarna kuning. "Tapi proyektil itu masih di laboratorium forensik untuk diteliti jenisnya, sementara dari bangkai seekor lainnya bernama Paul tidak ditemukan peluru karena dugaan kita pelurunya tembus," katanya.

Koordinator PLG Seblat, Aswin Bangun, mengatakan, kasus kematian gajah akibat tertembak baru kali ini terjadi, sementara kematian gajah lainnya biasanya akibat diracun. Menurut dia, kasus kematian gajah di Bengkulu termasuk langka yang ditunjukkan data terakhir pada tahun 2008, hanya satu ekor gajah liar yang ditemukan mati di sekitar perkebunan sawit milik PT Agricinal akibat diracun. "Ini menjadi kasus yang pertama dan kita harapkan yang terakhir," katanya.

Andi mengatakan pihaknya akan fokus untuk mengetahui pelaku penembakan kedua ekor gajah tersebut. Kematian kedua ekor gajah tersebut mengurangi jumlah gajah binaan pihaknya dari sebelumnya 20 ekor menjadi 18 ekor. (Ant/OL-06)

Lagi Pembunuhan Gajah Binaan di Bengkulu

Senin, 30 Maret 2009 | 19:54 WIB

TEMPO Interaktif , Bengkulu: Dua gajah betina binaan milik Pusat Latihan Gajah (PLG) Seblat, Kecamatan Putri Hijau, Kabupaten Bengkulu Utara, Mati ditembak orang tidak dikenal pada Selasa (24/3). Gajah-gajah ini ditembak saat sedang istirahat dalam tugas patroli hutan bulanan bersama Kepolisian Daerah Propinsi Bengkulu.

Kasus pembunuhan gajah binaan di PLG Seblat sebelumnya juga pernah terjadi pada tahun 2008 dengan cara diracun. Saat itu pelaku berhasil mengambil gading dari seekor gajah jantan yang ia bunuh.

Gajah-gajah tersebut ditemukan tewas oleh Mahout, sebutan untuk pawang gajah, keesokan paginya. "Kedua gajah itu ditembak ditelinga kiri bagian belakang hingga tembus ke telinga kanan," Kata Andi Basrul, Kepala Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Bengkulu, saat konferensi pers, Senin (30/3).

Pihak BKSDA dan Polda Bengkulu belum mengetahui motif dan jenis senjata yang digunakan pelaku penembakan, "Masih diteliti di laboratorium kepolisian di palembang," ujarnya. Namun, dugaan sementara, pelaku penembakan adalah pemburu harimau yang kesal karena banyak ranjau harimau yang berhasil dijaring dalam setiap patroli hutan yang dilakukan Kepolisian daearah bersama gajah binaan di PLG. "Rasanya tidak mungkin pelaku membunuh gajah itu untuk mengambil gading, karena kedua gajah tersebut berjenis kelamin betina," Tuturnya.


Luas areal PLG Sebelat saat ini adalah 6.865 hektar dengan jumlah gajah binaan sebanyak 18 ekor, serta gajah liar sebanyak 62 ekor. BKSDA sudah mengajukan permohonan untuk perluasan areal PLG menjadi 18.366 kepada Pemerintah Kabupaten Bengkulu Utara untuk menyelamatkan populasi gajah dan satwa dilindungi lainnya di wilayah tersebut. Rencananya, perluasan areal ini juga ditujukan untuk menjadikan PLG sebagai Taman Wisata Alam.

HARRI PRATAMA ADITYA

Dua Gajah Binaan KSDA Bengkulu Mati Tertembak

Senin, 30 Maret 2009 | 21:03 WIB

BENGKULU, KOMPAS.com — Sebanyak dua gajah betina binaan Balai Konservasi Sumber Daya Alam (KSDA) Bengkulu di Pusat Latihan Gajah (PLG) Seblat, Kabupaten Bengkulu Utara, mati tertembak, awal pekan lalu. Hingga saat ini, belum diketahui motif dan pelakunya.

Kepala BKSDA Bengkulu Andi Basrul di kantornya, Senin (30/3), mengatakan, kematian dua gajah ini merupakan kehilangan besar bagi KSDA, khususnya Pusat Latihan Gajah (PLG) Seblat. "Kedua gajah ini positif mati akibat tertembak peluru, dan saat ini kita bekerja sama dengan kepolisian melakukan penyelidikan," katanya.

Andi yang baru dua pekan bertugas di BKSDA Bengkulu mengatakan, dari belakang telinga sebelah kanan seekor gajah yang diberi nama Gia ditemukan proyektil bewarna kuning. "Tapi proyektil itu masih di laboratorium forensik untuk diteliti jenisnya," katanya.

Satu gajah lagi, Paul, yang juga mati karena tertembak, tidak ditemukan proyektil. Diduga, pelurunya tembus.

Koordinator PLG Seblat Aswin Bangun mengatakan, kasus kematian gajah akibat tertembak baru kali ini terjadi, sementara kematian gajah lainnya biasanya akibat diracun.

Menurut dia, kasus kematian gajah di Bengkulu termasuk langka karena, data terakhir pada tahun 2008, hanya satu gajah liar yang ditemukan mati di sekitar perkebunan sawit milik PT Agricinal akibat diracun. "Ini menjadi kasus yang pertama dan kita harapkan yang terakhir," katanya.

Andi mengatakan, pihaknya akan fokus untuk mengetahui pelaku penembakan kedua gajah tersebut. Kematian kedua gajah tersebut mengurangi jumlah gajah binaan pihaknya dari sebelumnya 20 ekor menjadi 18 ekor.

MSH
Sumber : Antara

Polda Bengkulu Usut Matinya Gajah PLG Sbelat

BENGKULU – Matinya 2 ekor gajah Sumatra ( Elephas maximus sumatranus ) Jenis kelamin betina, di kawasan pusat latihan gajah ( PLG ) Sebelat Kecamatan Putri Hijau Bengkulu Utara, diusut Dit Reskrim Polda Bengkulu. Soalnya dibagian kepala satwa dilindungi undang-undang ini ditemukan proyektil peluru, yang mengindikasikan kalau gajah itu pernah kena tembak. Saat ini proyektil peluru tertsebut masih diperiksa di laboratorium Forensik Palembang untuk mengetahui peluru dan senjata yang ditembakan.

“Saat ini masih dalam pengasutan kita, proyektil yang ditemukan sudah dikirim ke labor Palembang. Sementara pelaku penembakan gajah itu masih dalam penelusuran kita,”ujar Wadir Reskrim Polda Bengkulu AKBP Drs.R.Sunanto MM didampingi Kabit Humas AKBP Y Suyatmo.

Diakui Wadir, pihaknya sudah melakuakan otopsi terhadap gajah yang mati tersebut. Hasilnya diketahui bahwa memang peluru yang dilesakkan, sebagai penyebab kematiaan gajah itu.

Hingga saat ini belum diketahui apa yang melantar belakangi ditembaknya gajah tersebut. Tindakan membunuh satwa dilindungi ini, pelakunya bisa dijerat undang-undang No 5 tahun 1990 Tentang Konservasi Sumberdaya Alam Hayati dan Ekosistemnya. Ancaman hukumanya, pidana maksimal 10 tahun penjara.

“ini sudah masuk unsur pidana karena hewan ini milik negara yang dilatih. Dengan hasil proyektil yang ditentukan labor nantinya kita harap dapat menemukan siapa dibalik semua ini.” Ujar Wadir Reskrim.

Diketahui, 24 maret 2009 lalu dikawasan hutan konservasi PLG Seblat ditemukan gajah mati diduga akibat ditembak senjata api. Didapati luka tembak dikepala. Kematian gajah ini sebab mengagetkan pihak PLG. Polda pun langsung turun tangan untuk mengusut kasus ini.( Bro )


Sumber : Koran Harian Rakyat Bengkulu Tanggal 29 Maret 2009 Hal 7

Gangguan Gajah Liar Terus Meningkat

Minggu, 15 Februari 2009

BENGKULU--MI: Sepekan terakhir gangguan gajah liar di perladangan Desa Dusun Pulau Kecamatan Sungai Rumbai Kabupaten Mukomuko yang merupakan wilayah perbatasan dengan Desa Seblat Kecamatan Putri Hijau Bengkulu Utara dinyatakan meningkat oleh Tim Mitigasi Konflik dan Monitoring Gajah (MKMG).

Koordinator MKMG yang bekerjasama dengan Pusat Latihan Gajah (PLG) Seblat di bawah koordinasi Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Bengkulu, Andri mengatakan telah terjadi dua kali konflik di mana kawanan gajah liar memasuki dan merusak tanaman di kebun masyarakat setempat.

"Kita mendapat laporan dari masyarakat yang melihat kawanan gajah di kebun mereka dan kita langsung ke lapangan dan masih menemukan empat ekor gajah sudah berjalan meninggalkan kebun masyarakat," katanya.

Menurut Andri sebelum timnya tiba di lokasi konflik, petani setempat sudah berhasil mengusir kawanan gajah dengan bunyi chinsaw.

"Memang salah satu cara pengusiran gajah adalah membuat bunyi-bunyian selain menanam tanaman yang tidak disukai gajah di sekitar kebun seperti tanaman serai," katanya.

Gangguan gajah yang terakhir pada tanggal 4 Februari lalu kata Andri dilakukan empat ekor gajah yang terdiri dari tiga ekor induk betina dan seekor anaknya.

Andri mengatakan gangguan ini menjadi yang kesekian kali selama Februari 2009 sedangkan selama Januari 2009 pihaknya mencatat terjadi tujuh kali gangguan gajah liar di kebun masyarakat.

Meski tidak menimbulkan korban jiwa namun kata Andri gangguan ini mengakibatkan masyarakat kehilangan puluhan hingga ribuan tanaman sawitnya yang berumur satu hingga tiga tahun.

"Selama Januari, yang kita rekap ada tujuh kali pengrusakan di kebun masyarakat seperti kebun milik Saji sebanyak 1200 batang, milik Salim 59 batang, milik Sitorus dua kali pertama 18 batang dan kedua 300 batang, milik Solehan 16 batang dan milik Lahmudin 11 batang,"katanya. (Ant/OL-06)

Dua Kelompok Gajah Hilang Secara Misterius

29/08/08

Bengkulu (ANTARA News) - Sejak 2005 lalu, tim survai gajah Flora Fauna Internasional (FFI) mengaku kehilangan jejak dua kawanan/kelompok gajah Sumatera yang terdapat di Kabupaten Mukomuko, yang hingga saat ini belum diketahui keberadaan sekitar 50 ekor gajah Sumatera tersebut.

"Terakhir tahun 2005 kita masih bertemu kawanan gajah itu, kita sebut kelompok Air Dikit berjumlah 30 ekor dan satu lagi kelompok Air Brau, kurang lebih 20 ekor," kata Muhammad Andri, tim survai Monitoring Harimau Gajah Sumatera (MHGS), yang diprakarsai LSM International (FFI), saat mendampingi Pers dalam kegiatan media Trip, dua hari menjelajah areal yang menjadi habitat gajah Sumatera di HP Air Teramang dan HPT Air Ipuh, Kamis.

Namun sejak pertemuan terakhir itu, kata andri, timnya tidak pernah lagi menemukan jejak kedua kelompok tersebut.

Perkiraan sementara, anggota dua kelompok gajah itu bergabung dengan kawanan/kelompok gajah Air Teramang yang saat ini menjadi satu-satunya kelompok gajah Sumatera yang hidup diluar kawasan Pusat Konservasi Gajah (PKG) Seblat Kecamatan Putri Hijau Kabupaten Bengkulu Utara.

"Sebenarnya kita juga tanda tanya besar seolah-olah dua kawanan gajah ini hilang ditelan bumi," katanya.

Dari hasil survei tahun 2007 dikatakannya, tim menemukan jejak dan kotoran dan diperkirakan 20 ekor gajah Sumatera di wilayah perbatasan Bengkulu-Jambi sekitar 10 Km dari Tanjung Kasri kabupaten Bangko Provinsi Jambi melintasi Taman Kerinci Sebelat (TNKS).

Namun kemungkinan ini menurutnya sangat kecil karena jejak yang sangat jauh mencapai ratusan kilometer dengan perjalanan tiga hari dan topografi pegunungan yang terjal.

Polhut BKSDA Bengkulu yang diperbantukan di MHGS, Edi Kusuma mengatakan, hilangnya dua kelompok gajah ini cukup misterius.

Setidaknya, kata dia, apabila gajah tersebut menjadi korban perburuan liar atau menjadi korban atas konflik antara gajah dengan manusia, pihaknya masih bisa menemukan bangkai gajah-gajah tersebut.

"Gajah itu memiliki jalur jelajah atau yang biasa kita sebut homreng yang secara rutin akan dilalui, tapi dua kelompok ini tidak pernah lagi berada di dua lokasi habitatnya itu," katanya.

Pada tahun 1992, kata Edi, pihak BKSDA menurunkan 6 tim untuk menyurvei keberadaan Badak Sumatera namun di lapangan pada hari yang sama masing-masing tim bertemu kelompok gajah, artinya pada tahun tersebut bisa dipastikan terdapat enam kelompok gajah.

Penurunan populasi Gajah Sumatera, menurut Edi tergolong cepat. Hal ini berinteraksi positif dengan peningkatan jumlah Perusahaan perkebunan swasta diwilayah ini.

"Hampir seluruh areal HGU perkebunan ini dulunya adalah habitat gajah," tambahnya.

Peneliti dari Universitas Bengkulu (Unib), Rizwar menjelaskan, pada tahun 2001 lalu terdapat empat kelompok Gajah Sumatera yang hidup di habitatnya di hutan Bengkulu yang sebagian besar berada di kawasan Hutan Produksi dan Hutan Produksi Terbatas.

Keempatnya, Kelompok Air KPG Seblat, Kelompok Air Teramang, Kelompok Air Dikit, Kelompok Air Brau. Dua kelompok terakhir inilah menurut tim MHGS tidak pernah ditemukan lagi jejaknya.(*)

COPYRIGHT © 2008

Gajah Sumatera di Bengkulu Tinggal 100 Ekor

Kamis, 28 Agustus 2008

formatnews - Bengkulu 28/8 (ANTARA) : POPULASI gajah Sumatera di Provinsi Bengkulu terus menurun, jika data tahun 2001 menunjukkan populasi gajah Sumatera sebanyak 200 hingga 400 ekor, kini tinggal 100 ekor.

"Populasi saat ini tidak lebih dari 100 ekor, dalam kurun waktu 7 tahun kalau kita pakai data terkecil yang 200 ekor, nanti tahun 2014 gajah Sumatera akan punah. dan kalau kita pakai data 400 ekor, Gajah sumatera akan punah pada tahun 2011." kata koordinator Mitigasi Konflik Manusia Gajah ( MKMG) Flora Fauna International (FFI), David Gusman, Kamis.

Menurutnya, jumlah tersebut terdistribusi sebanyak 50 ekor di Hutan Produksi Terbatas ( HPT) Air Teramang, Kecamatan Pondok Suguh, Kabupaten Mukomuko dan 50 ekor hidup dikawasan Hutan Produksi Peruntukan Khusus Pusat Konservasi Gajah (PKG) Seblat Kecamatan Putri Hijau Kabupaten Bengkulu Utara Seluas 6850 Ha.

David mengatakan, populasi gajah Sumatera di Bengkulu merupakan yang terkecil di Pulau Sumatera. Populasi terbesar terdapat di Nangroe Aceh Darussalam dan Riau.

Penurunan populasi Gajah Sumatera sebagian besar diakibatkan fragmentasi kawasan hutan yang menjadi habitat gajah untuk areal perkebunan, peladangan dan pemukiman. Fragmentasi ini sebagian besar dilakukan secara ilegal.

"Perambahan hutan produksi terus berlangsung di sekitar habitat gajah dan tidak ada upaya pencegahan dari pihak terkait" kata David.

Kondisi ini mengakibatkan kasus konflik antara gajah dan manusia semakin meningkat. Sejak November 2006 hingga Juni 2007, MKMG mencatat sebanyak empat ekor gajah Sumatera ditemukan mati. Dua ekor karena keracunan, satu ekor mati dibunuh dan satu ekor lagi mati karena mengalami sakit.

"Yang mati keracunan belum bisa dipastikan disengaja masyarakat atau karena gajah itu mati setelah memakan sawit yang diberi racun untuk mengamankan tanaman tersebut dari hama," jelasnya.***

Sumber=
http://www.formatnews.com/?act=view&newsid=5453&cat=10

Gajah Liar Rusak Kebun Sawit

31 Maret 2008

Bengkulu (ANTARA News) - Kawanan gajah liar yang berada dalam kawasan Pusat Latihan Gajah (PLG) Seblat keluar dari kawasan itu dan merusak 1.256 tanaman sawit milik PT Agricinal di Kecamatan Putri Hijau Kabupaten Bengkulu Utara dan satu pos jaga di sekitar perkebunan.

Koordinator PLG Seblat, Aswin Bangun, Senin, mengatakan maraknya kegiatan perambahan liar membuat gajah merasa terganggu dan keluar dari dalam kawasan untuk mencari makan.

"Apalagi hutan koridor sebagai jalan gajah dari kawasan PLG ke TNKS sudah terputus akibat perambahan sehingga lokasi tempat gajah mencari makan semakin sulit, akhirnya mereka keluar kawasan dan memakan tanaman sawit milik Agricinal," ujarnya.

Tanaman sawit yang rusak tersebut bukan hanya milik PT Agricinal tapi ada juga milik masyarakat yang berada di sekitar pinggiran kawasan PLG.

Aswin menjelaskan, serangan gajah liar tersebut sudah terjadi sejak pertengahan Februari lalu dengan jumlah gerombolan gajah yang keluar antara 50-60 ekor.

Untuk mengatasi gangguan gajah liar tersebut pihak perkebunan sudah minta bantuan dari BKSDA untuk mengatasi gajah liar tersebut.

Menanggapi pengaduan tersebut pihak BKSDA sudah mengirim tiga gajah binaan dan mendirikan pos di sekitar kawasan yang sering dimasuki gajah liar.

Aswin mengatakan, maraknya gajah liar keluar dari kawasan karena habitat mereka terganggu dan bunyi gergaji mesin juga ikut membuat gajah keluar dari dalam kawasan.

Gajah merupakan hewan liar yang mempunyai pendengaran yang cukup peka sehingga ketika ada bunyi gergaji mesin mereka akan berusaha menghindar dari dekat daerah tersebut.

Ketika ditanya, ia mengatakan baru dalam dua bulan terakhir gajah liar dalam kawasan PLG keluar untuk mencari makan.

Untuk mengatasi gangguan gajah liar tersebut, Aswin mengimbau masyarakat jangan terus membuka lahan dan menebangi hutan yang selama ini menjadi habitat gajah.

Kegiatan penebangan liar itu tidak hanya menganggu gajah, tapi juga satwa liar dan buas lainnya seperti harimau, beruang dan mereka juga bisa masuk ke perkampungan penduduk.(*)

COPYRIGHT © 2008

Siapa yang Salah??

Cerita berikut ini adalah sebuah cerita seorang petani sawit yang saya temui beberapa bulan yang lalu (Desember 2008) yang tinggal di perbatasan Pusat Latihan Gajah (PLG), Seblat, Bengkulu Utara. Saya menginap di pondok beliau selama lima hari. Disebuah podok yang sangat sederhana yang terbuat dari papan-papan bekas dan bambu. Berdirinya pondok inipun sudah tidak lurus lagi alias hampir roboh karena dimakan usia.

Saya mengunjungi keluarga petani sawit ini karena berdasarkan informasi yang saya dapat, hanya beliau inilah yang sampai sekarang masih bertahan di jalan koridor yang membelah kawasan PLG Seblat, Bengkulu Utara. Sebuah jalan yang dibuat oleh perusahaan kelapa sawit (PT Alno) pada tahun 2004 dengan MoU antara PT Alno dan BKSDA Bengkulu yang juga mendapat persetujuan dari pejabat di Manggala Wanabakti.

Seperti yang sudah pernah saya ceritakan di posting sebelumnya tentang status PLG Seblat, yaitu Hutan Produksi dengan fungsi khusus yang secara prinsip pengelolaannya dibawah Dinas Kehutanan. BKSDA Bengkulu sebenarnya tidak punya wewenang dalam pembuatan dan persetujuan MoU yang telah dibuat.

Beberapa bulan sebelum saya datang, disepanjang jalan ini ramai sekali masyarakat yang masuk untuk merambah dan membuat ladang di kawasan PLG Seblat. Sebagian tanaman sawit yang mereka tanam sudah membuahkan hasil. Namun, tak berapa lama setelah itu para perambah ini meninggalkan ladang mereka karena adanya operasi penangkapan oleh Polda Bengkulu terhadap beberapa perambah yang diduga memperjualbelikan tanah kawasan. Hampir seluruh tanaman sawit dan tanaman lainnya yang ada disepanjang jalan poros inipun sudah habis dimakan dan dinjak-injak gajah liar.

Nah, dari latar belakang beberapa permasalahan yang terjadi di PLG Seblat ini. Saya mencoba mencari informasi kenapa masyarakat tersebut merambah dan membuka lahan di kawasan PLG Seblat dan mengapa mereka cenderung ingin menanam kelapa sawit di ladang mereka. Informasi ini kami coba gali untuk melanjutkan sebuah film dokumenter yang pernah kami buat mengenai ancaman satwa Gajah Sumatera yang terdapat di Bengkulu.

Dari cerita yang saya buat ini silahkan menilai sendiri sebenarnya siapa yang salah. Masyarakat (perambah), Dinas Kehutanan, BKSDA Bengkulu, Pemerintah Daerah, Gajah, atau mungkin Tuhan yang salah??!!

Lahmudin. Itulah namanya. Umur beliau sudah 65 tahun. Tinggal disebuah pondok bersama seorang istrinya Jarinah (50 th). Disaat pertama kali saya datang menemui mereka, mereka merasa takut dan bertanya-tanya. Khawatir mereka akan diusir dari ladang mereka yang sudah mereka tempati dari beberapa tahun yang lalu. Mereka menduga saya dari petugas kehutanan.

Setelah beberapa hari tinggal bersama mereka, Pak Lahmudin baru mau bercerita secara terbuka dan tidak takut lagi terhadap saya. Beliau menceritakan bagaimana kehidupan kerluarganya, latar belakang mereka membuat ladang disini, ketakutan mereka dan harapan mereka terhadap ladang yang sudah mereka buat selama ini.

Pada tahun 2000 karena diajak oleh beberapa teman dan keluarga yang ada di kampung (Dusun Pulau) untuk membuat ladang dihutan, akhirnya Pak Lahmudin ikut membuat ladang. Dulu orang-orang kampung ini membuat ladang jauh dari kampung yaitu disekitar areal PT Maju. Mereka menanam tanaman kopi di ladang mereka. Karena sudah ada akses jalan didaerah PLG Seblat, maka beberapa orang kampung inipun bergerak menuju kawasan PLG Seblat untuk membuat ladang disepanjang jalan poros PT Alno. Sebuah jalan yang memotong kawasan PLG Seblat untuk pengangkutan hasil kelapa sawit ke pabrik. Konon disepanjang jalan ini masih berhutan dan semak belukar yang tidak ada penghuninya. Entah karena mereka tidak tahu kawasan ini adalah kawasan PLG Seblat atau pemerintah daerah serta petugas kehutanan tidak memberi tahu mengenai status kawasan, akhirnya mereka menebang, membersihkan lahan dan menanam disana.

Luas lahan yang digarap oleh Pak Lahmudin dan istrinya sekitar 2,5 ha. Beberapa areal sudah ditanam kelapa sawit, dan sebagiannya lagi ditanam tanaman muda, seperti sayur-sayuran dan buah-buahan. Seperti para petani lainnya yang ada di Bengkulu. Pada awal membuka lahan, setelah dibersihkan dan dibakar. Mereka akan menugal padi (menanam padi darat). Humus tanah setelah pembakaran sangat baik untuk tanaman padi. Setelah panen padi barulah mereka menanam tanaman keras.

Saya sempat iseng menanyakan kepada Pak Lahmudin. "Mengapa bapak menanam sawit? Apakah tidak ada tanaman lain selain sawit?". "Pada saat saya membuka ladang ini, perkebunan Alno baru buka. Mereka banyak sekali menanam kelapa sawit. Ketika saya duduk di depan pondok saya, saya melihat aktivitas mereka. Lalu lalang membawa bibit-bibit kelapa sawit. Dari sana saya jadi berfikir. Nanti ketika mereka memanen hasil tanaman sawitnya, saya akan menjadi penonton saja kalo saya tidak ikut menanam sawit. Saya juga harus menanam sawit." Jawab beliau terhadap pertanyaan saya.

"Dulu saya tidak tahu berapa harga buah sawit perkilonya. Yang penting saya ikut menanam saja. Pertama kali panen harganya perkilo klo tidak salah seratus rupiah. Terus naik menjadi 200, naik lagi 300, tahun berikutnya naik 400 rupiah. Baru tahun 2008 ini saya bisa menikmati harganya per kilo sampai 1.400 rupiah" lajutnya.

Disaat melihat aktivitas sehari-hari yang dilakukan Pak Lahmudin, saya menjadi tahu dan bisa merasakan betapa berat menjalani kehidupan disini. Hanya berdua ditempat yang sepi. Disaat malam tiba, daerah ini sangat gelap karena tidak ada penerangan dari lampu-lumpu listrik. Tetanggapun sudah tidak ada karena semua teman-temannya balik ke kampung pasca operasi penangkapan para perambah. Banyak satwa-satwa liar yang ada didalam kawasan, termasuk mamalia terbesar di Indonesia yaitu satwa gajah.

Pernah ditengah malam sekitar jam 10 malam terdengar suara teriakan gajah liar. Nyaring dan membuat hati kecut. Posisinya tidak jauh dari pondok Pak Lahmudin. Dengan sigap Pak Lahmudin bangun mengambil senter dan membawa kentongan lalu berjalan menuju ke ladang sawitnya. Saya yang saat itu penasaran bagaimana caranya mengusir gajah malam-malam, akhirnya ikut beliau. Malam itu sangat-sangat gelap. Tidak ada cahaya apapun ditengah-tengah ladang sawit kecuali cahaya senter kita berdua. Saya berfikir didalam hati, bagaimana caranya mengusir gajah malam-malam gelap gulita begini yang klo mereka berkelompok sangat banyak jumlahnya. Tubuh gajah sangat besar. Klo tiba-tiba ada dibelakang kita dan mereka menubruk atau menginjak kita?. Wassalam sudah. "Gila ini perjuangannya membuat ladang disini. Udah sepi, banyak gajah liar, gelap pula" gumamku didalam hati.

Malam itu Pak Lahmudin memukul-mukul kentongan dan berteriak untuk mengusir gajah agar tidak mendekati ladangnya. Kami berdiri diatas sebuah punggungan di ladang tersebut. Saya sempat kaget dan merinding ketika berjalan menuju punggungan, ada seekor musang yang cukup besar melompat didepan saya. Saya langsung mengarahkan cahaya senter kearah musang tersebut dan akhirnya bisa bernafas lega. Untung musang yang melompat didepan. Klo seandainya harimau sumatera yang datang? Mungkin saya bisa langsung pingsang ditempat.

"Klo gajah ini berkelompok saya masih bisa mengusirnya, karena mereka bersuara. Tapi klo dia datang sendiri, habis sudah tanaman sawit saya. Karena dia datangnya diam dan tidak ada suara" ucapnya kepada saya ditengah malam itu. Saya merasa prihatin sekali dengan beliau. Dimana umur beliau yang sudah tua ini seharusnya sudah bisa duduk santai dirumah, menggendong cucu yang manis dan lucu serta menikmati hari-hari tuanya. Bukan di tengah-tengah ladang sawit yang gelap dan penuh dengan resiko.

WILAYAH ABU-ABU

Mungkin inilah yang disebut dengan wilayah abu-abu. Sebuah lahan atau kawasan yang tidak jelas statusnya. Banyak informasi yang tidak jelas yang diterima oleh Pak Lahmudin dan beberapa masyarakat kampung sekitar mengenai status kawasan yang mereka tempati. Pihak PT Alno mengklaim lahan tersebut adalah lahan perkebunan milik mereka. Sementara pihak PLG sendiri mengklaim lahan tersebut adalah kawasan PLG Seblat. Lahan yang ditempati Pak Lahmudin dan beberapa orang disana posisinya berada di antara Perkebunan Alno dan Kawasan PLG Seblat. Dampak yang jelas terjadi dari ketidakjelasan itu adalah perambahan, jual beli tanah, keributan dan beberapa masyarakat yang dirugikan. Mungkin juga pemerintah daerah yang dirugikan karena harus mengeluarkan anggaran untuk menyelesaikan konflik yang terjadi disana.

Kenapa bisa tidak jelas statusnya?
Sepulang dari lapangan saya mencari tahu apa penyebabnya. Saya menemui beberapa orang di Bengkulu dan bertanya mengenai sejarah lahan tersebut. Dari jawaban yang didapat, ada beberapa informasi mengatakan bahwa wilayah itu memang sengaja dibuat samar-samar. Dulu saat dilakukan pengukuran oleh klo tidak salah Dinas Kimpraswil, ada beberapa oknum yang sengaja membuat wilayah itu menjadi abu-abu atau tidak masuk dalam tata batas. Kemungkinan oknum tersebut ingin mendapatkan lahan tersebut untuk kepentingan pribadi. Ini sebenarnya yang harus dicek dan ditelusuri kebenarnya. Dicari solusi yang terbaik untuk menyelesaikan masalah yang berlarut-larut ini.

Bagi Pak Lahmudin lahan itu adalah harta satu-satunya yang ia miliki. Beberapa lahan yang ia miliki didekat kampunya sudah ia berikan kepada anak-anaknya yang sudah berkeluarga. Walau bagaimanapun beliau akan tetap bertahan karena ditempat inilah beliau bisa bertahan hidup dihari tuanya. Besar sekali harapannya terhadap hasil sawit yang ia tanam beberapa tahun yang lalu. Terlebih lagi ketika ditahun 2008 harga tandan sawit per kilo-nya melambung tinggi. Niat untuk menjalankan rukun islam yang kelimapun yaitu naik haji, seakan bisa diwujudkan. Namun, mejelang akhir tahun 2008 harapan itu seakan sirna. Krisis global yang menimpa hampir diseluruh negara didunia ini juga berdampak buruk terhadap seluruh petani sawit yang ada di pelosok-pelosok negeri. Harga sawit terjun bebas seolah tak peduli dengan jeritan para petani. Mereka yang pada tahun itu bermimpi menjadi kaya dan sudah mengkonversi seluruh lahan yang mereka miliki menjadi kebun sawit, hidup seperti tidak punya harapan. Lahan-lahan produktif sudah terlanjur ditanami tanaman kelapa sawit. Bahkan sawah-sawah yang selalu menghasilkan beras beratus-ratus kilo setiap tahunnya diganti dengan tanaman kelapa sawit.

Sama dengan halnya Pak Lahmudin. Kecewa teramat sangat dengan turunnya harga tandan sawit. Ketidakjelasan status lahan. Harga kelapa sawit yang yang tidak menentu, membuat Pak Lahmudin terkadang termenung kosong memikirkan bagaimana harus menghabisi hari-hari tuanya.

"Klo hama gajah, walaupun malam, siang, masih bisa saya menghadapinya. Tapi klo hama PLG (petugas PLG, Polhut-red) yang datang, tidak bisa saya mengatasinya. Itulah hama yang paling sulit diatasi". Saya akan pergi dari sini jika jalan ini ditutup. Pemerintah atau PLG harus adil. Jangan hanya perusahaan saja yang boleh mengakses jalan ini, sementara kita rakyat kecil di usir" keluh beliau kepada saya disaat saya mewawancarainya.

Ditulis oleh Een Irawan Putra
Email : irawanputra@gmail.com

Perburuan Gajah di Bengkulu Terus Berlanjut

29 uni 2006

Bengkulu, (ANTARA News) - Peraktik perburuan gajah secara liar di Provinsi Bengkulu masih terus berlanjut sehingga mengancam punahnya populasi hewan yang dilindungi itu.

"Pemburuan sebelumnya terjadi di kawasan hutan di Kabupaten Bengkulu Selatan namaun kini mulai merambah ke hutan Bengkulu Utara dan Muko Muko, kata Kepala Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) provinsi Bengkulu Agung Styabudi didampingi Koordinator Pusat Latihan Gajah (PLG) Seblat Aswin kepada ANTARA di Bengkulu, Kamis (29/6).

BKSDA terus memantau pergerakan para pemburu liar tersebut bekerja sama dengan aparat Kepolisian dan TNI.

"Cegah tangkal tahap awal sudah dilakukan berbagai teknik tersendiri yang tidak diketahui banyak orang, mulai dari penjagaan kawasan sampai ke peredaran hasil buruan," katanya.

Untuk pengawasan di lokasi kawasan selain sudah ditempatkan petugas, juga membedayakan masyarakat di desa sekitar kawaan hutan sebagai informan jika ada kelompok berburu yang masuk ke hutan.

Sementara pada titik peredaran hasil buruan, juga sudah ditempatkan personel khusus yang setiap saat siap membengkuk penjual hasil buruan seperti gading gajah, kulit harimau dan cula badak.

"Kita tidak main-main dalam mengamankan dan menjaga kelestarian hewan yang dilindungi tersebut, siapa pun pelakunya tetap akan ditindak," kata Agung.

Ia mengaku, kesulitan untuk memantau kegiatan perburuan di kawasan hutan di Kabupaten Bengkulu Selatan, karena berbatasan langsung dengan Provinsi Lampung.

Sebagian gajah yang diburu berintegrasi ke hutan Taman Nasional Bukit Barisan Selatan (TNBBS) wilayah Lampung.

Ketika ditanya, ia menjelaskan pada 2005 ditemukan tiga ekor bangkai gajah di hutan Air Bikuk, Kecamatan Muko Muko Selatan Kabupaten Muko Muko yang diduga kuat dibunuh pemburu karena gadingnya sudah tidak ada.

Modus operasi pemburuan gajah yakni dengan cara meracun hewan tersebut, setelah gajah itu mati diambil gajahnya sementara bangkainya dibiarkan membusuk.

Gerombolan pemburu gajah yang ada di Provinsi Bengkulu diduga masih satu kelompok dengan para pemburu gajah di wilayah Provinsi Riau yang telah membunuh banyak gajah. Dalam melakukan kegiatannya mereka terlihat sangat profesional.

Koordinator pengelola Pusat Latihan Gajah (PLG) Seblat, Aswin secara terpisah mengatakan, para pemburu itu tidak hanya mengicar gajah tapi binatang lain yang memiliki nilai ekonomis tinggi seperti harimau dan badak juga diburunya.(*)

COPYRIGHT © 2006

Seandainya tidak ada gajah di dunia ini knapa?

Gajah Sumatera, Nasibmu Kini ... (lanjutan 3)

Pertanyaan tersebut keluar disaat kita berdiskusi panjang dan berdebat bagaimana caranya menyelamatkan habitat gajah di Bengkulu. Karena sudah mentok dan kompleks permasalahan yang ada di PKG Seblat, dengan putus asa karena tidak menemukan jalan keluarnya seorang teman mengeluarkan pertanyaan itu. "Apa yang terjadi jika tidak ada gajah di dunia? tidak ada ada bencana bukan?". Semua orang langsung diam dan tidak bisa menemukan jawabannya. Karena semua bingung, akhir aku menyeletuk "ya.. setiap yang namanya makhluk Tuhan itu punya hak untuk hidup dan punya tempat tinggal". Apakah ada jawaban lain selain jawabanku??

Diskusi ini terus berlanjut, beberapa minggu yang lalu saya kembali lagi ke Bengkulu untuk berdiskusi dengan Kepala BKSDA Bengkulu beserta beberapa staffnya, NGO lokal dan beberapa temen media lokal. Mencoba mencari titik temu agar kepentingan keselamatan gajah dari kepunahan dan kebutuhan hidup masyarakat sekitar kawasan bisa terpenuhi. Namun sampai sekarang belum ada titik temunya. Belum ada win win solution yang kita dapatkan.

Peningkatan status kawasan menjadi kawasan konservasi yang lagi diupayakan oleh BKSDA Bengkulu dan beberapa NGO disana masih belum bisa direalisasikan. Kepentingan bagi masyarakat atas keberadaan kawasan konservasi diwilayah mereka belum bisa diramalkan secara baik. Sampai sekarang kita masih mencari jawaban-jawaban apa manfaat bagi masyarakat jika status kawasan yang semula hutan produksi dengan fungsi khusus menjadi hutan konservasi?, kenapa gajah harus diselamatkan?, mengapa pemerintah daerah lebih baik memperluas areal perkebunan sawit daripada memikirkan upaya-upaya untuk penyelamatan gajah?, mengapa masih terjadi perburuan liar, mengapa masih terjadi illegal loging dan perambahan disekitar kawasan PKG Seblat? Apa yang salah dan mengapa semuanya bisa terjadi??

Kalo menurut pikiran saya yang pendek ini. Semuanya perlu keseimbangan. Pembangunan dan peningkatan segi ekonomi dan kesejahteraan masyarakat sangat perlu untuk ditingkatkan. Tapi kelestarian sebuah ekosistem dan keseimbangan alam juga sangat perlu diperhatikan. Nah, bagaimana mempertemukan berbagai kepentingan ini, dengan latar belakang orang yang berbeda-beda?? Tidak gampang ternyata.

Yang membuat saya menjadi sedih adalah pernyataan yang keluar dari seoarang pawang gajah yang ada di PKG Seblat. "Kalo kita tidak bertindak cepat dalam mengatasi permasalahan-permasalahan yang ada di PKG Seblat ini, kemungkinan 5-10 tahun kedepan gajah-gajah liar yang ada di Bengkulu ini berikut gajah jinaknya sudah dipastikan tidak ada lagi di Bengkulu ini" ujarnya tegas kepadaku.

Saya ngga bisa bayangkan seandainya anak cucuku nanti bertanya padaku "Pak, katanya di Bengkulu ada Gajah ya?? Liat gajah yuk pak". Kemana saya harus mengajak anak cucu saya untuk melihat gajah di Bengkulu. Gajahnya sudah tidak ada lagi. Kasihan benar anak-anak kita dan generasi penerus kita nanti, menikmati indahnya alam, flora dan fauna di Nusantara ini hanya dari sebuah buku dan cerita-cerita, yang mungkin aja nanti gajah hanya sebuah dongeng??.....

Ditulis oleh Een Irawan Putra
Email: irawanputra@gmail.com

Pusat Konservasi Gajah Seblat

Gajah Sumatera, Nasibmu Kini ... (lanjutan 2)

Pada tahun 1995 melalui SK Menhut No. 658/Kpts-II/1995 kawasan yang luasnya hanya 6.865 ha ini ditetapkan sebagai Hutan Poduksi dengan fungsi khusus. Khusus karena didalamnya ada habitat gajah dan kawasan ini ingin dijadikan tempat pelatihan gajah. Keputusan ini dikeluarkan karena pada tahun 1988 konflik antara manusia dan dan gajah mulai terjadi di Provinsi Bengkulu.

Di Sumatera populasi gajah pada tahun 1992 diperkirakan 2800-5000 ekor. Namun pada tahun 2007 populasi ini berkurang drastis menjadi 2400-2800 ekor (Gajah Action Plan 2007). Sementara populasi di Bengkulu saat aku tanya dengan bapak-bapak yang ada di BKSDA Bengkulu, jumlahnya pada tahun 1992 sekitar 375-390 ekor. Sedangkan sekarang jumlah populasinya sekitar 120-140 ekor.

Semakin terancamnya keberadaan satwa gajah di Asia termasuk di Indonesia pada tahun 1996 IUCN sudah memasukkan satwa gajah kedalam The IUCN Red List of Threatened Species atau kedalam daftar merah spesies terancam punah. Dan saat ini satwa gajah juga sudah masuk kedalam Apenddix I CITES.

Di Bengkulu terdapat dua kantong gajah yang tersisa, yaitu Kelompok PKG Seblat (HPT Lebong Kandis-Hutan Produksi Air Rami), dan Kelompok Air Teramang. Sebelumnya pada tahun 1992 terdapat delapan kantong habitat gajah. Jumlah gajah liar yang ada di PKG Seblat saat ini diperkirakan sekitar 60-80 ekor. Selain itu juga teradapat 21 ekor gajah binaan dan terdapat flora dan satwa lainnya seperti tapir, harimau sumatera, beberapa jenis primata dan berbagai jenis burung. Gajah bianaan ini ditangkap pada tahun 90'an saat banyaknya gajah-gajah yang masuk ke perkebunan dan pemukiman masyarakat. Setiap ekor gajah binaan dirawat dan dijaga oleh seorang pawang gajah atau mahot. Namun sekarang berdasarkan keputusan pemerintah dan kesepakatan para pemerhati gajah tidak diperkenankan lagi melakukan penangkapan gajah-gajah liar untuk dijinakan.

Luas kawasan PLG Seblat yang hanya 6.865 ha tidaklah memadai sebagai habitat kelompok gajah di PLG Seblat. lokasi ini telah dikelilingi oleh perkebunan sawit yang ikut menyebabkan pergerakan gajah menjadi semakin sempit dan hanya ada satu koridor yang menghubungkan antara PLG Seblat dengan TN Kerinci Seblat. Nasib koridor ini terakhir aku kesana sudah terputus oleh perambah dan sudah menjadi pemukiman masyarakat. Dan sekarang habitat gajah ini sudah terkurung oleh perkebunan sawit dan pemukiman masyarakat. Yaaa... kita tinggal tunggu saja human elephant conflicts yang akan terjadi di Bengkulu. Idealnya satu ekor gajah membutuhkan luas areal untuk makannya adalah 200 ha. Kebutuhan makan gajah adalah 5-10% dari berat badannya. Jika populasi gajah di PKG Seblat diperkirakan sekitar 80 ekor, maka luas areal yang dibutuhkan adalah 16.000 ha lahan berhutan.

Ancaman terhadap kelestarian satwa dan flora di kawasan hutan PKG Seblat saat ini semakin kompleks. Mulai dari pembukaan lahan hutan untuk perladangan oleh masyarakat, perambahan, illegal loging serta perburuan liar. Maraknya perburuan gading gajah, membuat kelangsungan hidup gajah-gajah jantan yang ada di PKG Seblat semakin terancam. Selain itu juga banyak gajah-gajah yang dibunuh disaat mereka memasuki areal perkebunan masyarakat.

Ditulis oleh Een Irawan Putra
Email : irawanputra@gmail.com

Gajah Sumatera, Nasibmu Kini...

Keinginan saya untuk kembali lagi ke lokasi penelitianku untuk tugas akhir saat itu akhirnya bisa terwujudkan. Pusat Konservasi Gajah Seblat, yang terletak di sebelah Utara Provinsi Bengkulu ini saya kunjungi pertama kali pada tahun 2004. Gilakan? setelah dua puluh tahun lebih saya lahir di Bengkulu, baru tahun 2004 saya datang kesana.

Setelah menyelesaikan penelitianku dan tahu betapa kompleksnya permasalahan dan ancaman kawasan ini terhadap perambahan, illegal loging, perburuan liar membuat hatiku terenyuh dan ada sebuah keinginan yang kuat untuk berbuat sesuatu terhadap kawasan ini. Sekecil apapun itu partisipasi dan kontribusiku, yang penting saya bisa melakukan sesuatu. Haruss!!!

Setelah saya lulus dari kampus, gejolak dan keinginan untuk balik lagi ke PKG Seblat masih sangat besar. Diskusi dan membuat rencana-rencana peluang bagaimana caranya bisa kembali lagi ke Bengkulu terus bergulir seiring berjalannya waktu. Kajian-kajian dangkal mengenai apa dan mengapa gajah sumatera (elephas maximus sumatranus) ini semakin terancam kehidupannya dilakukan. Tanya sana sini, telpon sana sini. Dan berakhir dengan kata "apa yang bisa kita lakukan sesuai dengan kemampuan kita?"

Tahun 2007 tidak disangka ide kita untuk mendokumentasikan dan membuat film singkat mengenai keterancaman kelestarian habitat gajah di Bengkulu, dan mengupdate kondisi terakhirnya disetujui oleh Rufford Foundation. Karena kemampuan kita hanya dibidang audio visual dan web desaign, maka kita mencoba melakukan menyebarkan informasi mengenai keterancaman kawasan PKG ini dan keterancaman satwa-satwa yang ada didalamnya. Kita melihat bahwa kurang informasi mengenai kawasan ini dan bagaimana kehidupan satwa gajah membuat masyarakat Bengkulu kurang begitu peduli dan masa bodoh dengan gajah.

Ditulis oleh Een Irawan Putra
Email: irawanputra@gmail.com

-

Komentar Terbaru

-

Subscribe

Film Terbaru

Post Terbaru

      Admin Control Panel

      New Post | Settings | Change Layout | Edit HTML | Moderate Comments | Sign Out

      Tag Cloud

      On Site

      Dukung